Laporan Audit: jaboel.net
Laporan Audit Jaringan & Rekomendasi Optimasi: jaboel.net
1. Analisis Topologi dan Kondisi Eksisting
Saat ini, jaringan jaboel.net mengoperasikan dua router utama dengan pembagian beban kerja sebagai berikut:
- R1 (Edge Router - CCR1009): Menangani load balancing 4 ISP (Total kapasitas ≈ 1.1 Gbps setelah penambahan Starlink) menggunakan metode PBR (Policy Based Routing) Manual per konten berbasis kombinasi RAW + Mangle.
- R2 (BRAS Router - CCR2116): Menangani layanan Hotspot (VLAN 100, ±324 user aktif, subnet /16) dan PPPoE Server (VLAN 200, ±186 user aktif) secara tersentralisasi dalam satu mesin.
2. Identifikasi Kelemahan Sistem & Risiko Fatal (Existing Vulnerabilities)
- CPU Resource Exhaustion (R1): Metode PBR manual per-konten menggunakan RAW dan Mangle memaksa router melakukan deep packet inspection secara konstan. Hal ini menyebabkan lonjakan beban CPU (CPU load tinggi) pada CCR1009, yang memicu penurunan throughput dan peningkatan latensi (ping spike).
- Pelanggaran Standar Alokasi IP (Non-RFC 1918): Penggunaan blok IP 11.11.11.0/24 untuk jaringan lokal PPPoE menabrak aturan RFC 1918 (IP Publik milik DoD AS). Dampak fatalnya adalah terjadinya routing overlap dan anomali pada proses NAT/routing di BRAS, serta membuat user tidak dapat mengakses IP publik asli tersebut di internet.
- Network Bottleneck (Keterbatasan Interface): Koneksi antar-router dan interkoneksi ke distribusi masih mengandalkan interface Gigabit Ethernet (1G). Dengan total bandwidth ISP mencapai >1 Gbps, terjadi bandwidth bottleneck pada link transport.
- Monolithic BRAS & Broadcast Storm Risk: Menggabungkan layanan PPPoE dan Hotspot dalam satu hardware tanpa isolasi L2 yang ketat membuat domain broadcast terlalu luas. Subnet Hotspot yang menggunakan /16 (65.534 IP) berpotensi besar mengalami Broadcast Storm (akibat ARP request yang berisik), yang dapat mengganggu kestabilan sesi PPPoE.
- Belum ter-setup Local Recursive DNS Server: Tidak adanya DNS caching lokal membuat setiap request DNS user harus langsung menuju DNS publik (ISP/Google/Cloudflare). Hal ini meningkatkan latency lookup dan memperlambat experience awal saat membuka konten internet/halaman web (web browsing responsiveness).
3. Rekomendasi Solusi & Target Perbaikan (Proposed Optimization)
- Restrukturisasi Metode Load Balancing: Mengubah mekanisme load balancing menjadi dinamis menggunakan PCC (Per Connection Classifier) untuk all-content (kecuali traffic game). PBR hanya diterapkan secara spesifik untuk traffic game tanpa melibatkan rule RAW yang masif.
- Dampak: Beban CPU R1 turun drastis, efisiensi bandwidth meningkat, latensi lebih stabil.
- Standarisasi IP Address (RFC 1918 Compliance): Migrasi seluruh blok IP lokal 11.11.11.0/24 ke blok IP Privat yang legal sesuai RFC 1918 (misalnya menggunakan segmen 172.16.0.0/12 atau 10.0.0.0/8).
- Upgrade Link Transport ke 10G SFP+: Mengimplementasikan interkoneksi backbone antar-router (R1-R2-R3) dan ke core switch menggunakan interface 10 Gbps.
- Dampak: Memperluas headroom throughput, mengeliminasi bottleneck, menekan inter-vlan routing latency.
- Decoupling Services (Pemisahan BRAS): Memisahkan fungsi BRAS PPPoE dan BRAS Hotspot ke perangkat fisik yang berbeda untuk memisahkan fault domain.
- Isolasi Layer 2 (VLAN Segmentation per PON): Menerapkan konsep VLAN per PON/VLAN per Region pada OLT (misal: VLAN 101-104).
- Dampak: Memecah broadcast domain besar menjadi segmen-segmen kecil, mengeliminasi risiko broadcast storm, mengamankan jaringan dari looping.
- Implementasi Local Recursive DNS Server: Membangun DNS server internal berbasis Linux di jaringan lokal untuk melayani caching query.
- Dampak: Resolusi domain menjadi instant (<2 ms), menghemat bandwidth internasional, meningkatkan user experience.
- Desentralisasi NAT & Dynamic Routing (OSPF + iBGP):
- Menghapus proses NAT Masquerade pada router BRAS (R2 & R3) dan memusatkannya (Centralized NAT) hanya di R1 Edge Core.
- Mengaktifkan OSPF pada interface Loopback (Dummy/Router-ID) sebagai Underlay Routing.
- Mengaktifkan Internal BGP (iBGP) sebagai Overlay Routing untuk mendistribusikan informasi seluruh segmen IP lokal antar-router secara dinamis dan scalable.
4. Kebutuhan Perangkat Keras Tambahan (Hardware Procurement)
Untuk merealisasikan topologi baru yang scalable, diperlukan pengadaan perangkat berikut:
| No | Perangkat / Spesifikasi | Fungsi Utama | Jumlah |
|---|---|---|---|
| 1 | DNS Server Mandiri • CPU: Intel Core i3-8100 • RAM: 2x4GB (Dual Channel) • Storage: SSD 128GB • NIC: Intel X710-DA2 (Dual Port 10G SFP+) • OS: Ubuntu Server 24.04 LTS | Sebagai Recursive DNS Server lokal untuk akselerasi akses internet di sisi user. | 1 Unit |
| 2 | Hotspot Gateway Tersendiri • MikroTik RB1100ahx4 (atau seri di atasnya) | Router khusus (R3) untuk menangani service Hotspot & Manajemen User. | 1 Unit |
| 3 | Core Switch 10G • MikroTik CRS305-1G-4S+IN | Sebagai Switch Distribusi / Aggregation 10G (SW01 dan SW02). | 2 Unit |
5. Rencana Desain Topologi Baru (Target Topology)
Seluruh interkoneksi antar-perangkat core kini menggunakan link 10G SFP+ untuk memastikan interkoneksi tanpa hambatan (lampiran topologi akan dikirim via WhatsApp).
Detail Mapping Port Target:
- SW01 (Aggregation)
- sfpplus-1 ↔ R1 (CCR1009) sfpplus-1
- sfpplus-2 ↔ R2 (CCR2116) sfpplus-1
- sfpplus-3 ↔ R3 (RB1100ahx4) sfpplus-1
- sfpplus-4 ↔ Linux DNS Server (Intel X710 Port 1)
- SW02 (Distribution)
- sfpplus-1 ↔ R2 (CCR2116) sfpplus-2
- sfpplus-2 ↔ R3 (RB1100ahx4) sfpplus-2
- sfpplus-3 ↔ OLT 1 (Uplink SFP+ GE1)
- sfpplus-4 ↔ OLT 2 (Uplink SFP+ GE1)
Komentar
Posting Komentar